Apa Perbedaan Wayang Golek dan Kulit?

 Berita Hangat

wayang-golek

Seni wayang golek merupakan bentuk pertunjukan menggunakan boneka kayu dan memiliki ukiran berkarakter Sunda. Pertunjukan ini seringnya dilakukan saat malam hari mulai pukul 10 malam hingga dini hari sekitar pukul 4 pagi. Wayang ini mengambil cerita dari Ramayana atau Mahabarata. Kesenian ini kerap dipergelarkan dalam rangka perayaan khitanan atau perkawinan. Pada perkembangannya wayang ini sering dipentaskan saat peresmian gedung atau institusi. Wayang ini lebih dominan sebagai sebuah seni pertunjukan rakyat dan mempunyai fungsi dengan kebutuhan masyarakat lingkungannya baik kebutuhan material atau spiritual. Hal demikian bisa kita lihat dari berbagai kegiatan di masyarakat seperti saat hajatan, perayaan atau dalam rangka khitanan.

Lantas, apa perbedaan wayang ini dengan wayang kulit? Wayang kulit begitu terkenal di daerah Jawa Tengah serta Jawa Timur, wayang kulit biasanya dimainkan oleh seseorang. Semalam suntuk sang dalang memainkan berbagai macam karakter aktor wayang yang merupakan orang-orangan dengan bahan kulit kerbau dan di hias motif kerajinan. Sang dalang harus mengubah karakter suara, intonasi hingga mengeluarkan guyonan. Bahkan sang dalang harus bernyanyi agar dapat menghidupkan suasana, di bantu oleh musisi yang memainkan gamelan dan sinden yang memainkan lagu jawa. Tokoh dalam wayang berjumlah ratusan. Wayang kulit dimainkan dengan ditancapkan pada batang pisang.

Wayang memang sebuah bentuk teater rakyat yang begitu populer. Orang sering menghubungkan kata wayang dengan bayang karena dilihat dari pertunjukan wayang yang menggunakan layar dimana muncul pula bayang-bayangnya. Di Jawa barat, wayang golek memang sangat trending, berkenaan dengan wayang ini. terdapat 2 macam jenis yakni wayang purwa dan wayang cepak, kecuali wayang wong, semua wayang tersebut dimainkan oleh seorang dalang yang memimpin pertunjukan dan mengatur gamelan.

Berikut pola pengadegan wayang ini, antara lain:

  • Tatalu,
  • Babak unjal, paseban, bebegalan,
  • Nagara sejen,
  • Patepah,
  • Perang gagal,
  • Panakaan,
  • Perang kembang,
  • Perang raket,
  • Tutug.

Sebenarnya salah satu fungsi wayangdi dalam masyarakat ialah membersihkan dari kecelakaan atau dari marabahaya. Ada beberapa orang yang harus diruwat, seperti:

  • Wunggal atau anak tunggal,
  • Nanggung bugang yakni seorang adik yang kakaknya sudah meninggal dunia,
  • Suramba yakni 4 orang putra,
  • Surambi yakni 4 orang putri,
  • Pandawa yaitu 5 putra,
  • Pandawi yaitu 5 putri,
  • Talaga tanggal kausak yakni seorang putra yang dihampit putri,
  • Samudra hapit sindang, yakni seorang putri dihampit2 putra dan yang lainnya.

Di beberapa pertunjukan wayang golek ini, ada beberapa tokoh yang sering dimainkan, antara lain:

  • Cepot. Cepot adalah anak sulung dari 3 bersaudara, cepot atau Sastrajingga berasal dari pasangan Sutiragen serta Semar Badrayana. Tokoh ini mempunyai sifat yang sangat humoris dan tidak peduli pada siapa dia berbicara entah berbicara pada dewa atau berbicara pada ksatria, namun saat ia muncul selalu ada petuah yang dikeluarkan dari mulutnya,
  • Darwala. Darwala merupakan adik Sastrajingga atau Cepot yang merupakan anak kedua dari Sutiragen serta Semar Badrayana, adik Cepot ini sangat setia menemani kakaknya yakni cepot sendiri,
  • Denawan Acung. Denawan mempunyai arti buta, buta di sini mempunyai arti bahwa Denawan tidak mengenal agama oleh sebab itu bangsa ini sering melakukan berbagai macam tindakan yang berbau negatif, dalam kisah pewayangan Denawan Acung digambarkan memiliki tubuh kecil dan bersifat temperamental,
  • Dewi Drupadi. Dewi ini merupakan istri dari Prabu Yudistira yakni seorang raja yang berasal dari Amarta, pasangan ini mempunyai putra yang dinamai Pancawala.

Author: 

tulis, tulis, dan tulis ......